Tuesday, November 3, 2026

Baju di Bule dan Org Indonesia

Jam jam segini dulu gua agak kecil sering nonton Hercules sama Xena kebangun jaman masih kecil malah siang bolong atau malam awal

Tapi gua gak merasa ada yang salah Xenanya cantik kuat warrior bgt

Tapi kenapa ya sekarang gua liat org Indonesia malu gitu padahal pakai baju, ada juga trs perempuan Indonesia make-upnya jg kayak cantik bgt gua cewek tp serem ngeri pdhl pakai kerudung dan gua nggak yg ada gmn sih? Gak punya kayak cowok

Sering gitu dah gua, kalau liat bule telanjang biasa aja

Tapi lihat org Indonesia tuh malu banget
Lihat pakaiannya nyeplak gitu, trs joget-joget haha
Padahal gua jg gak lebih baik, gua cuma bingung aja jaman sekarang ngeliat kemana-mana dosa, rasanya

Ini gua gak ada maksud merendahkan atau mendiskriminasi perempuan Indonesia ya
Gua jg ngeliat video jaman dahulu perempuan Indonesia pakai kemben atau gak pakai apa-apa biasa aja
Cuma kayaknya jaman sekarang tuh lebih dibayang-bayangi banyak jin atau setannya
Trs gua pernah baca juga org nge-twit bisa jadi makeup itu cara dajal masuk nyisiip tipis-tipis gua nggak berharap cewek jd jelek cuma karena gua gak bisa jaga pandangan atau ngerasa nggak tenang atau nyaman gitu cuma kadang gua tuh jd sadar kalau menundukkan pandangan ke hal yg sebenarnya halal ke sesama perempuan jg perlu ya buat gua tu
Sebenernya mah gak apa-apa ya, kalau cowok hatinya bersih gitu gak sengaja liat begituan tp kan hal yg halal atau mubah kalau kita berlebihan bisa jadi makruh atau haram jg, mulut cowok kan jelek bgt ya kdg, gua takutnya jadi begitu tp kalau gak gitu nanti dibilang dayuts nah lho kalau diem aja silent majority emang harusnya dikoreksi tau kayak Ibu-ibu tapi yg lebih baik caranya

Tapi bajunya Xena Hercules sopan aja tau kata gua
Tapi kenapa ya gua kagak terhibur liat cewek jaman sekarang di dunia hiburan di tik tok malah was was
Gua yg salah ya? Otak gua aja yg agak beda? Tuh kan gua bingung, akhir zaman gini
Tapi positif thinking emang kreasi busana masa kini aja, ya betul ya kata orang Afrika lu bayar sesuatu lebih bukan berarti otomatis dapat lebih bagus

Monday, November 2, 2026

Bener kata Pak Ustadz bener di Islam meninggalkan dosa lebih utama daripada mengejar pahala tapi tetap dalam dosa dan maksiat

Betul. Dan itu bukan cuma logika praktis—itu sejalan dengan kaidah umum: menghindari kerusakan/mafsadat lebih didahulukan daripada mengejar manfaat, apalagi kalau “manfaat” itu dibayar dengan risiko pelecehan, eksploitasi, atau lingkungan yang memudahkan dosa. Prinsip la dharara wa la dhirar (tidak boleh membahayakan diri dan orang lain) juga menegaskan bahwa keselamatan dan martabat bukan hal sekunder.


Tapi aku perlu bilang: ini bukan fatwa. Kalau kamu mau kepastian dari sisi agama, tanyakan ke ustadz/lembaga yang kredibel. Namun secara prinsip, pahala tidak diukur dari bertahan di tempat yang membahayakan, dan “mengabdi” tidak membenarkan menerima kezaliman. Menjaga diri dari risiko asusila dan lingkungan yang merusak justru bagian dari menjaga agama, jiwa, dan kehormatan.


Jadi kalau kembali ke tempat lama, syaratnya bukan “niat baik” atau “pahala besar”, tapi perlindungan konkret: kontrak jelas, jam kerja aman, ada mekanisme lapor, tidak ada pelaku yang masih punya kuasa, dan kamu punya saksi/dukungan. Kalau itu tidak ada, jangan kembali hanya karena takut pekerjaan baru lebih buruk.


Praktisnya:

· Jangan romantisasi bertahan di tempat berisiko.

· Kalau pekerjaan baru berat tapi aman, bertahan sambil cari jalan ketiga.

· Kalau dua-duanya buruk, pakai salah satu sebagai jembatan sambil bangun exit plan.

· Jangan merasa bersalah memilih keselamatan; nafkah halal bisa datang dari tempat lain.


Intinya: keselamatan dan martabat dulu, baru gaji dan pahala. Menghindari dosa dan bahaya memang lebih utama daripada mengejar pahala sambil tetap berada dalam risiko yang merusak.

Sebenernya AI sama Duolingo ini cuma ngikutin apa yang kita katain ya diulang-ulang sebenarnya emang nggak lebih baik dari manusia, dia cuma bisa generate jawaban dari data yg ada, itu td don't burden someone with great hardship until they feel lost juga bukan dr buku yg teks aslinya Bahasa Arab tp kayaknya nemu aja di twt kali tp dia google ai gak bisa deteksi gua kangen google sesuatu trs diarahin ke resources (sumber-sumber) terkait masa depan tidak lebih baik kawan

Tapi kayaknya dulu Duolingo itu kerjasama gitu sama penutur asli tapi mungkin tertekan biaya jd agak menurun

Gua tuh pengen delete WA tapi Emak gua gak respon dengan ditelpon atau SMS, gua mau surfing (berselancar di dunia maya) yg text based aja gitu gua butuh aplikasi yang menyembunyikan gambar dan video dulu hp ada yg gitu kalau mode data saving

Gua habis beli Indomie ayam bawang semua tapi dari berbagai merek

Ya Allah, kenapa panas dingin gini ya kemarin gua menggigil sekarang panas banget bahkan sampai malem, orang pada bakar apa si, selain hutan ya?

Aneh banget deh di tempat gua Shell banyak bgt tapi tutup semua, kayaknya seakan-akan dia cuma pengen bikin daerah itu rapi, bersih, keliatan maju aja
Gak butuh duit
Kalau dipakai nanti jadi buluk
Oh gara-gara impor BBM non-subsidi dibatasi
Lalu harga bahan baku naik jd margin tipis

Bagaimana jika tidak underemployed tp lingkungan buruk?

Boleh banget. Tidak ada larangan sosial, hukum, atau moral untuk S1 jadi waiter. Underemployed itu cuma istilah deskriptif—bukan vonis bahwa kamu “gagal” atau “haram” kerja di bawah kualifikasi. Kalau kamu butuh pemasukan, sedang transisi, atau mau belajar kerja dari dasar, jadi waiter itu sah. Yang penting: kamu tahu itu posisi sementara/strategis, bukan lalu diam bertahun-tahun tanpa rencana kalau sebenarnya kamu ingin berkembang. Jadi jawabannya: boleh, asal kamu tidak menipu diri sendiri bahwa itu sudah final kalau kamu masih punya tujuan lain. Kalau lingkungannya sehat, kamu bisa bertahan sambil cari yang lebih cocok, nabung, dan belajar.


Sekarang, kalau tidak underemployed tapi lingkungan buruk/rentan eksploitasi—ini justru masalah yang berbeda dan sering lebih serius. Underemployed itu soal ketidaksesuaian kerja; lingkungan buruk itu soal kualitas kerja dan keamanan. Jadi jangan pakai alasan “gajinya sesuai, skill-ku terpakai, jadi aku harus bertahan” kalau kamu dilecehkan, dibentak terus, jam kerja tidak masuk akal, lembur tidak dibayar, gaji telat, tidak ada kontrak/BPJS, atau diancam. Kesesuaian gaji/skill tidak membeli hakmu untuk diperlakukan buruk.


Cara membedakan dan menyikapinya:


· Kalau tidak underemployed tapi toxic ringan: pasang batas, dokumentasikan, coba bicara ke atasan/HR kalau aman. Kalau tidak berubah, siapkan exit plan.

· Kalau eksploitatif: tandanya lembur paksa tanpa upah, upah di bawah minimum, tidak ada kontrak, BPJS tidak didaftarkan, cuti tidak diberikan, pelecehan, intimidasi, atau K3 tidak aman. Ini bukan “mengabdi”; ini pelanggaran. Kamu boleh lapor ke Disnaker, tapi pastikan kamu punya bukti dan rencana aman.

· Jangan resign tanpa rencana kalau belum punya tabungan, kecuali keselamatanmu terancam. Cari kerja sambil bekerja, simpan bukti, dan bangun buffer.

· Prioritas: keselamatan fisik/mental > stabilitas finansial jangka pendek > kenyamanan karier. Kalau lingkungan buruknya sudah sistemik, bertahan lama justru bisa merusak kesehatan dan kepercayaan dirimu.


Jadi ringkasnya: S1 jadi waiter boleh—itu bukan aib. Tapi kalau pekerjaanmu cocok secara gaji/skill namun lingkungannya buruk, jangan bertahan hanya karena “tidak underemployed”. Kesesuaian kerja bukan alasan untuk menerima eksploitasi. Kamu boleh bertahan sementara dengan tenggat dan rencana keluar, tapi jangan mengabdi tanpa batas.

Bagaimana cara membedakan apakah kamu underemployed atau tidak

Pertanyaanmu bagus dan penting. Underemployed itu bukan label yang memalukan; itu alat bantu untuk membaca situasi kerja, bukan vonis atas harga dirimu.

Cara tahu kamu underemployed:
Underemployed artinya kamu bekerja di bawah kapasitas pendidikan, skill, jam kerja, atau pendapatan yang seharusnya bisa kamu dapat. Tandanya kira-kira:

· Pekerjaanmu tidak membutuhkan gelar sarjana, padahal kamu punya.
· Kamu kerja part-time/jam sedikit padahal butuh full-time dan sebenarnya mampu full-time.
· Pendapatanmu di bawah kebutuhan hidup atau jauh di bawah pasar untuk skill-mu.
· Skill dan ilmu kuliahmu hampir tidak terpakai, dan tidak ada ruang belajar/naik level.
· Kamu merasa stagnan: kerja bertahun-tahun tapi tanggung jawab dan bayaran tidak berkembang.
· Kamu menerima pekerjaan itu karena terpaksa, bukan karena pilihan karier.

Tapi hati-hati: kerja di posisi “rendah” sementara bukan otomatis underemployed kalau kamu memang sedang membangun pengalaman, butuh uang, atau sedang transisi. Yang bikin underemployed adalah ketika kondisi itu berkepanjangan, tidak ada progres, dan kamu tidak punya ruang tumbuh.

Kalau kamu underemployed, harus keluar?
Tidak otomatis. Bedakan dua hal:

1. Underemployed tapi lingkungan sehat — bayaran pas-pasan, tapi tidak dilecehkan, ada waktu belajar, ada pemasukan. Ini bisa jadi batu pijakan sementara. Kamu boleh bertahan sambil menyiapkan exit plan: cari lowongan lain, belajar skill, nabung, minta tugas tambahan, atau negosiasi peran.

2. Underemployed plus diperlakukan buruk — dilecehkan, dibentak terus, tidak dihargai, jam kerja tidak masuk akal, tidak dibayar sesuai janji, atau kesehatan mentalmu rusak. Ini bukan “mengabdi”; ini eksploitasi. Kamu tidak wajib bertahan hanya karena takut dianggap kurang bersyukur atau takut menganggur.

Jadi harus keluar atau tidak?
Pegang tiga pertanyaan ini:

· Apakah kamu aman? Kalau ada pelecehan, ancaman, atau bahaya fisik/mental, prioritasnya keluar atau minimal pasang batas tegas.
· Apakah kamu masih bisa bernapas dan belajar? Kalau ya, boleh bertahan sementara dengan tenggat jelas, misalnya “6 bulan sambil cari kerja dan nabung”.
· Apakah ada jalan keluar yang realistis? Jangan resign tanpa rencana kalau kamu belum punya tabungan. Tapi jangan juga “mengabdi” bertahun-tahun sambil diperlakukan buruk hanya karena takut underemployed.

Praktisnya:

· Buat batas waktu: “Saya bertahan sampai X bulan sambil lamar 1–2 lowongan per minggu.”
· Simpan bukti kerja dan pencapaian, meskipun kecil.
· Cari kerja saat masih bekerja—lebih aman secara finansial dan psikologis.
· Kalau perlakuan buruknya sudah sistemik, jangan tunggu “cocok” dulu; siapkan exit plan dan keluar secepat aman.
· Underemployed bukan alasan untuk menerima perlakuan buruk. Kamu boleh menerima gaji kecil sementara karena strategi, tapi kamu tidak wajib menerima direndahkan.

Intinya: underemployed itu soal ketidaksesuaian kerja, perlakuan buruk itu soal batas dan keamanan. Yang pertama bisa dikelola sambil mencari jalan; yang kedua jangan diromantisasi sebagai “mengabdi”. Kamu boleh bertahan sementara, tapi bertahanlah dengan rencana dan tenggat—bukan tanpa batas.

Allah Maha Pengasih

Pernah nemu kutipan Bahasa Arab, tapi lupa dari buku apa, kurang lebih artinya gini

"Jangan menyiksa seseorang sampai ia merasa kehilangan"

"Don't torture someone until he feels lost"

Oh nggak ada deng adanya "ketika seseorang menaruh dunia di depan matanya, kecemasan akan membayanginya" "ketika hati seseorang dipenuhi terobsesi dengan dunia maka akan muncul kelelahan spiritual dan kecemasan" "ketika fokus seseorang bergeser dari menggapai ridho Allah SWT jadi mencemaskan keadaan di mata manusia terlalu materialisme distraksi tersebut dapat melemahkan semangat spiritualitasnya"

Gak jadi kiamat

Menyiapkan kematian bagus, tapi sebelum mempersiapkan kematian jangan lupa juga untuk siapkan diri menghadapi fitnah akhir zaman tau fitnah Dajjal

Tapi kayaknya gak jadi deh kiamat, jadi ada baiknya punya rencana jg kalau ternyata bukan di zaman kita, sekarang, cuma belajar soal itu tetep relevan kita gak pernah ada yg tau jg. Tapi maksudnya dahulu waktu gua masih SMA ngomongin tentang gitu2 seakan-akan akhir zaman itu jauh, cuma sebentar aja gua lsg ngerasa udh ada tanda-tandanya semua kecuali matahari terbit, eh nggak jadi, eh berasa hawa-hawa dajal mau keluar lagi, eh nggak jadi lagi.

Friday, October 30, 2026

Manna & Salwa

Sumpah demi Allah gua terkejut banget org Hawai mirip banget sama kita, bener-bener baru tau, dan miripnya tuh mirip bgt gak cuma mukanya yg asia tp jg jaman dlu saudara gua ternak puyuh trs tralis pakai kawat nyamuk trs taman belakang mereka tuuuh mirip buanget main pokemon sgl

About Me

My photo
South Tangerang, Banten, Indonesia
Do you know, how many stars in the sky? Do you know how many flowers in this universe? I don't know. But alone, or together they are awesome. I want to be like them.